Sabtu, 11 Februari 2012

someone who i don't know yet

Ingat sewaktu kau menjemputku ke sekolah? Tepatnya hari rabu, ketika malamnya aku berangkat ke Solo. Kita sempat berjalan-jalan sebentar. Aku yang meminta hal itu. Di perjalanan, hujan turun. Kita meneduh di pinggir jalan. Dengan membawa tas yang cukup berat kala itu kita duduk di bangku kayu itu. Melihat orang yang hujan-hujanan, lari-larian.

Dan kau memegang tanganku dengan mengelus-ngelusnya. Aku merasa jantungku berdebar kencang. Lebay atau apapun itu namanya, tapi itu yang aku rasakan, Mar. aku tidak tahu mengapa. Apa yang telah kau perbuat padaku sehingga aku merasakan hal seperti ini?! Haha! Lucu memang. Dulu tidak terlalu seperti ini, tapi sekarang. Aku merasakan hal yang beda terhadapmu. Aku baru merasakan dirimu sekarang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17:00. Hujan sudah mulai reda. Sudah waktunya kita pulang. Di perjalanan pulang, kita berbincang-bincang. Dan sampai pada pembicaraan tentang wanita itu. Kau menceritakan bahwa wanita itu meneleponmu untuk mengajakmu datang ke acaranya kala itu.

“Kau ditelepon malam-malam. Untuk mengundang dirimu datang. Dan hanya dirimu yang ia telepon” waw!! Itu sebuah kejutan besar yang kau ceritakan untukku. Mengapa hanya dirimu yang ia telepon? Apalagi kau bilang dia ingat nomer ponselmu. Dia tidak menyimpan nomer ponselmu tapi menghapalnya. Oh! Tuhan. Aku saja tidak pernah hapal nomer ponselmu. Pernah aku menghapal nomer ponselmu, tapi itu yang IM3. Tapi kau, langsung mengganti kartumu dengan 3. Susah lagi untukku menghapalnya L. Banyak sekali pikiran-pikiran buruk yang menghantamku kala itu. Kau ingat betapa cerewetnya aku menanyakan segala hal tentang itu kepadamu?! Dan kau hanya bilang bahwa wanita itu disuruh ibunya untuk mengundangmu. Yang menjadi pertanyaanku adalah, menapa dia mau disuruh ibunya untuk menghubungimu setelah apa yang terjadi di antara kalian berdua?!

Kau melihatku dari kaca spion. Kau bilang aku tersenyum sendiri. Kau ingin tahu, itu bukan sebuah seyuman, Mar. itu sebuah ekspresi menahan airmata yang mendesak ingin keluar. Tapi aku tahan. Maaf jika aku tidak pernah memberitahumu tentang hal ini kepadamu. Karena kulihat kau menganggapnya biasa dan aku tidak ingin mengecewakanmu. Oleh karena itu, kutulis itu semua dalam document ini. Setidaknya sekarang kau tahu akan hal ini. Kau pernah menangis karenaku dulu. Dan aku menangis karenamu sekarang.

Maukah kau untuk membuatku selalu tersenyum? Aku memang tidak seperhatian seperti yang kau harapkan. Tapi dalam diamku aku selalu memperhatikan dirimu sampai ke hal yang paling kecil secara detail. Aku memang tidak pernah menunjukkan rasa sayangku kepadamu lewat ucapan. Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata untuk kupersembahkan padamu. Aku hanyalah aku. Aku hanyalah Pritami Imay Sari. Manusia biasa yang mempunyai caranya sendiri untuk menyayangimu. Bukan lewat ucapan sayang setiap saat, bukan lewat perhatian dengan selalu menanyakan apakah kau sudah makan hari ini. Aku mempunyai caraku sendiri untuk itu.

Maukah kau memperkenalkan dirimu seutuhnya kepadaku? Maaf, aku belum bisa terlalu luwes denganmu. Masih ada rasa canggung pada diriku. Kau masih seperti orang baru bagiku. Jadi, berikanlah waktu kepadaku untuk ini J.

Senin, 26 Desember 2011

23:33

Tidak ada komentar:

Posting Komentar