Sabtu, 11 Februari 2012

anak kecil yg mencoba dewasa

Ini mungkin terlihat seperti anak kecil bagimu. Tapi, setiap kau menyebutkan nama Vika dari ucapanmu aku selalu merasa takut. Aku takut kau pergi dariku. Walaupun selalu kau bilang takkan tinggalkan diriku, aku tak pernah bisa tenang. Wanita itu seolah-olah selalu menghantui diriku. Aneh, aku tahu aku aneh aku terlalu paranoid untuk itu. Mungkin ini balasan untukku karena kesalahanku dulu. Aku pergi meniinggalkan dirimu. Dan sekarang kucoba untuk mendekatimu lagi. Pernahkah kau menyadari mengapa kita bisa dekat kembali? Itu karena aku. Coba dulu aku tidak membalas “mention” pertama yang kau kirimkan untukku. Yaa.. walaupun kau yang pertama mengirimnya. Tapi aku selalu membalas apa yang kau kirim untukku.

Ingat waktu pertama kali kita jalan bersama lagi? Ketika kau mengajakku untuk pergi. Hal itu tidak akan pernah terjadi jika aku tidak pernah mengiyakan tawaranmu itu. Kau tahu tidak, ketika hari di mana kita pergi nonton. Sebenarnya aku tidak bisa pergi hari itu. Sedang ada acara berlangsung yang sebenarnya tidak dapat aku tinggal, tetapi karena hanya waktu itu waktu yang tepat untuk kita pergi, aku mengusahakannya. Padahal sore-sorenya pukul 16:00 sampai pukul 21:00 aku ada jadwal les yang mungkin sekarang kau bisa tahu betapa padatnya jadwal hari jumatku. Kita janjian untuk berangkat pukul 15:00 kala itu. Tapi, kau ingat aku telat? Aku bilang padamu bahwa aku baru tiba di rumah, dan memang benar. Dari Jakarta aku baru berangkat pukul 14:10. Dan keadaan siang itu tidak begitu lengang, ada sebagian jalan yang aku lewati terjebak macet. Untungnya aku dapat tiba di rumah jam tiga kurang, masih ada waktu untuk siap-siap. Aku cepat-cepat bergegas tanpa menghiraukan rasa lelahku. Kau sempat meneleponku bukan? Tapi aku tidak menjawab beberapa dari teleponmu? Kau pasti tahu apa yang aku tidak suka. Maaf, aku tahu waktu itu adalah keadaan mendesak, tapi aku selalu takut jika ada orang yang meneleponku. Aku tidak tahu kenapa.

Kita tiba di salah satu mall di Bekasi. Kita sempat berdebat kecil ingin menonton apa. Haha! Tapi aku menang dan kau mungkin sengaja mengalah. Hem.. kita menonton film “Di bawah Lindungan Ka’bah”, kan? Aku tahu kau agak sedikit tidak suka dengan film itu, tapi aku ingin sekali menonton film itu bersamamu. Kita berkeliling tak jelas sampai waktu tayang film itu tiba. Agak sedikit lelah sebenarnya karena belum ada waktu istirahat bagiku sejak di sekolah. Limat menit sebelum film di mulai, kita duduk sebentar. Aku bisa duduk dan melihat wajahmu dari dekat lagi, Mar. Sulit dipercaya. Aku kira tidak akan ada kesempatan itu lagi. Tetapi waktu mengijinkanku untuk merasa kan hal itu kembali. Sempat aku meneteskan airmata di dalam bioskop. Sungguh memalukan. Hanya karena sebuah film airmata mudah sekali menetes dari mataku. Film selesai kita tonton. Kita lanjut untuk mencari makan. Tidak ada niatku untuk makan sebenarnya. Dari pagi aku hanya makan cemilan di kantin. Hal itu yang membuatku menjadi mual. Ya! Telat makan sering membuatku menjadi mual yang akhirnya menyebabkan tidak ada makanan yang masuk dalam perutku. Maaf, jika hanya sedikit yang aku makan waktu itu. Aku tidak ingin merusak acara pertama kita hanya karena aku muntah. Kucoba untuk menutupi rasa sakitku kala itu. Aku tidak ingin terlihat kasihan di hadapanmu. Aku ingin terlihat seperti wanita yang kuat dan tidak lemah.

Kita pulang. Di jalan, kau mencoba memutar-mutar jalan yang memang aku tidak tahu jalannya. Hari yang cukup panjang. Terima kasih untuk hari itu…

Minggu, 25 Desember 2011

22:03

Tidak ada komentar:

Posting Komentar