Sabtu, 11 Februari 2012

Lagu kita - Vidi Aldiano

Meskipun aku bukan siapa-siapa, bukan yang sempurna

Namun percayalah hatiku milikmu

Meski seringku mengecewakanmu, maafkanlah aku

Janjiku kan setia padamu, hanyalah dirimu

Aku milikmu, kau milikku

Takkan ada yang pisahkan kita

Ini lagu kita tuk selamanya

Janjiku untukmu takkan tinggalkan dirimu

Meski seringku mengecewakanmu, maafkanlah aku

Janjiku kan setia padamu, hanya dirimu

Aku milikkmu, kau milikku

Takkan ada yang pisahkan kita

Ini lagu kita tuk selamanya

Janjiku untumu takkan tinggalkan dirimu

Lagu ini akan menjadi saksi

Tulusnya hatiku cintaimu ooh

Aku milikkmu, kau milikku

Takkan ada yang pisahkan kita

Ini lagu kita tuk selamanya oh janjiku untukmu

(aku milikmu, kau milikku)

Takkan ada yang pisahkan kita

Ini lagu kita tuk selamanya

Janjiku untumu takkan tinggalkan dirimu

Janjiku untumu takkan tinggalkan dirimu

Takkan tinggalkan dirimu

Menjelang hari ulang tahunmu

Menjelang hari ulang tahunmu. Jika kau tahu aku sudah mempersiapkannya sejak satu bulan yang lalu. Memang sedikit lebay. Tapi aku harus mempersiapkan semua tulisan-tulisan ini, sebelum dapat dibaca olehmu. Mungkin aku adalah satu-satunya wanita aneh yang dekat denganmu. Hanya aku bukan, yang memberikanmu hadiah seperti ini?

Ada banyak pikiran yang ingin aku luapkan di sini. Tapi tidak cukup tempat untuk menampung semunya.

Sebenarnya, aku ingin memberimu kejutan dengan merekam diriku sendiri ketika bermain piano sambil nyanyi lagunya Vidi Aldiano. Maksudnya agar sama dengan video klip aslinya. Tapi aku tidak bisa bermain piano. Ingin kucoba dengan keyboard, tapi tidak ada yang mengajari. Akhirnya Tata mengusulkan dengan gitar. Bagus juga idenya, apalagi aransementnya diganti acoustic. Lagi-lagi kau tahu sendiri aku tidak dapat bermain gitar. Aku hanya bisa Tae Kwon Do, Mar --“ . Untungnya ada temannya Tata, yang bernama Zaldy yang bisa mengajariku. Ingat tidak orang yang coment nya kau ‘like’ in terus ketika aku menulis status ‘siap-siap jari kapalan’ di fb? Dia pandai bermain bass karena dia anak band. Tapi, kuurungkan niatku itu.

Kabar baikpun datang. Sahabatku yang bernama Akmal bisa mengajariku. Waktu itu aku menceritakan tentang rencanaku ini kepadanya, aku menceritakan apa yang harus aku lakukan pada rencanaku ini. Tiba-tiba pada suatu sore ia mengirimkan pesan singkat untukku. Dia mau mengajariku, sebelumnya ia sempat berlatih sendiri. Dia saja susah untuk belajar, apalagi aku. Yah.. hanya bisa pasrah waktu itu. Kau jangan salah paham, ada Tata yang selalu ada ketika aku meminta bantuan pada orang lain. Akmal hanya teman biasa. Kita dekat hanya dekat sebagai teman. Akmal juga dekat dengan Tata. Teman laki-laki yang dekat denganku pasti juga dekat dengan Tata.

Akhirnya, dengan menahan rasa malu ini, aku hanya merekam suaraku mentah-mentah untukmu. Maaf jika merusak pendengaranmu. Tapi inilah suaraku. Kau sendiri yang menginginkan aku untuk bernyanyi bukan?! Jadi bisa kau dengar sendiri :P .

Ada rasa tidak enak dalam hati ketika ingin memasukan rekaman ini ke dalam flashdisk ini. Tapi kata Tata, “untuk apa lo punya perasaan kaya gitu, yang penting lo udah usaha, Tam. Masalah hasil biar dia sendiri yang nilai. Bagus gak bagus yang penting lo udah memberikan yang terbaik menurut lo.”

Dan aku putuskan untuk merekam suaraku dan memasukkan rekamanya ke dalam flashdisk.

Ada satu pertanyaan dariku, benar yah Vika itu vokalis band? Pasti suaranya bagus J. Jangan khawatir aku tidak pernah mencari-cari informasi tentang kau atau wanita itu. Tapi selalu saja ada orang yang memberitahuku.

Maaf beribu-ribu maaf. Tapi aku selalu memikirkan apakah Vika melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan terhadapmu, atau bahkan Vika memberikan yang lebih baik dariku. Itu sangat mengganggu pikiranku sekali L

Senin, 26 Desember 2011

22:47

Satu Januari du ribu dua belas

Satu Januari dua ribu dua belas. Akhir tahun dan awal tahun kita lewati bersama. Kita pergi ke Monas waktu itu. Macet ketika berangkat dan pulang. Padahal hanya sebentar kita di Monas, tapi perjalanan yang panjang itu sangat menguras waktu. Pegal dan pegal. Seharusnya aku yang memijitimu waktu itu, tapi malah kau yang memijiti aku. Terima kasih Damar J. Tapi… tanganmu memang besar sekali. Kaki dan tanganku seperti kau cengkram semua. Begitupun ketika pulang. Kau sudah pasti sangat lelah, tapi malah aku yang tidur. Aku tahu kau pasti sangat pegal menahanku. Maaf yah, Damar aku sangat merepotkanmu. Aku juga sempat menjatuhkan makanan yang seharusnya kita makan. Maaf maaf, aku memang tidak bisa diam L.

Ketika berangkat, kita sibuk membicarakan orang lain. Tapi memang sungguh lucu mereka waktu itu. Ketika di Monas, juga begitu ramai. Kita bingung ingin masuk lewat mana. Dan untungnya kita menemukan jalan masuk. Walaupun desak-desakan, kau melindungiku saat itu. Di dalam Monas, kau begitu dekat. Dekat sekali denganku. Ingin rasanya tidak melepaskan dekapan itu. Begitu nyaman berada di dekatmu J.

Dan tiba saatnya pulang. Untung saja kau ingat di mana kita memarkirkan motor. Jadi kita tak perlu berkeliling untuk mencari tempat parkirnya. Di perjalanan menuju tempat parkir, kau kembali menyebut nama wanita itu. Kau bilang padaku takkan pernah membicarakan atau mengingat-ingat wanita itu. Tapi kau malah menyebutnya langsung di depan wajahku. Itulah sebabnya aku tak suka jika harus pergi ke tempat di mana dulu kau pernah pergi dengannya. Kau masih saja ingat makanan yang biasa kalian makan ketika di Monas bersamanya. Sedih rasanya aku mendengarnya. Begitu spesialnya kah hubungan kalian dulu? Mengapa kalian berpisah jika dulu begitu indah untuk di lupakan?

Maaf, maaf, maaf aku selalu mengungkit-ungkit tentang ini kepadamu. Ketika bertemu denganmu, aku tidak pernah membicarakan hal ini kepadamu. Aku takut melukai perasaanmu. Aku tak tega jika melihatmu tersakiti, oleh karena itu, aku selalu bisa menahan semua ini walaupun harus aku yang merasa sakit. Tapi di sini aku berbicara padamu.

Aku tak suka selalu saja. Kau sebut-sebut namanya saat kita bicara. Aku tak ingin, tak ingin mendengarnya. Kau bawa-bawa namanya saat berdua denganku.

Sudah kau lagi-lagi membicarakan wanita itu, kita malah bertemu dengan Ambulance. Begitu dekat lagi. Astaga! Aku sangat ketakutan waktu itu. Tapi kau malah menyeretku mendekati Ambulance >.<. Hatiku belum benar seutuhnya, ditambah lagi dengan ambulance itu. Ah! Sungguh tak suka aku.

Maaf. Mungkin kau menganggapku wanita lemah. Tapi aku tidak selemah seperti kelihatannya.

Ketika mengetik ini, kita sedang smsan. Tepatnya pukul 23:15. Kau tidak sedang membalas pesanku. Saat itu aku mngirimkan balasan ini padamu, “Kamu yakin, Mar ngomong gitu? Tapi aku gak nganggep kamu seperti kamu anggep aku sekarang. Ternyata kamu nganggepnya ini biasa yah? Hem.”. Dan kau tidak lagi membalas pesanku. Dan saat itu aku merasa takut kau pergi meninggalkanku. Mungkin ini balasan untukku atas apa yang telah kuperbuat dulu padamu. Memang tak enak. Tapi apa dayaku? Apa yang dapat kuperbuat agar kau tetap di sisiku? Jangan pergi, Mar. ku tak akan membuatmu kecewa lagi.

Dan tak pernah terlintas dipikiranku untuk meninggalkanmu. Aku sayang sama kamu Damar J.

Minggu, 01 Januari 2011

23:21

someone who i don't know yet

Ingat sewaktu kau menjemputku ke sekolah? Tepatnya hari rabu, ketika malamnya aku berangkat ke Solo. Kita sempat berjalan-jalan sebentar. Aku yang meminta hal itu. Di perjalanan, hujan turun. Kita meneduh di pinggir jalan. Dengan membawa tas yang cukup berat kala itu kita duduk di bangku kayu itu. Melihat orang yang hujan-hujanan, lari-larian.

Dan kau memegang tanganku dengan mengelus-ngelusnya. Aku merasa jantungku berdebar kencang. Lebay atau apapun itu namanya, tapi itu yang aku rasakan, Mar. aku tidak tahu mengapa. Apa yang telah kau perbuat padaku sehingga aku merasakan hal seperti ini?! Haha! Lucu memang. Dulu tidak terlalu seperti ini, tapi sekarang. Aku merasakan hal yang beda terhadapmu. Aku baru merasakan dirimu sekarang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17:00. Hujan sudah mulai reda. Sudah waktunya kita pulang. Di perjalanan pulang, kita berbincang-bincang. Dan sampai pada pembicaraan tentang wanita itu. Kau menceritakan bahwa wanita itu meneleponmu untuk mengajakmu datang ke acaranya kala itu.

“Kau ditelepon malam-malam. Untuk mengundang dirimu datang. Dan hanya dirimu yang ia telepon” waw!! Itu sebuah kejutan besar yang kau ceritakan untukku. Mengapa hanya dirimu yang ia telepon? Apalagi kau bilang dia ingat nomer ponselmu. Dia tidak menyimpan nomer ponselmu tapi menghapalnya. Oh! Tuhan. Aku saja tidak pernah hapal nomer ponselmu. Pernah aku menghapal nomer ponselmu, tapi itu yang IM3. Tapi kau, langsung mengganti kartumu dengan 3. Susah lagi untukku menghapalnya L. Banyak sekali pikiran-pikiran buruk yang menghantamku kala itu. Kau ingat betapa cerewetnya aku menanyakan segala hal tentang itu kepadamu?! Dan kau hanya bilang bahwa wanita itu disuruh ibunya untuk mengundangmu. Yang menjadi pertanyaanku adalah, menapa dia mau disuruh ibunya untuk menghubungimu setelah apa yang terjadi di antara kalian berdua?!

Kau melihatku dari kaca spion. Kau bilang aku tersenyum sendiri. Kau ingin tahu, itu bukan sebuah seyuman, Mar. itu sebuah ekspresi menahan airmata yang mendesak ingin keluar. Tapi aku tahan. Maaf jika aku tidak pernah memberitahumu tentang hal ini kepadamu. Karena kulihat kau menganggapnya biasa dan aku tidak ingin mengecewakanmu. Oleh karena itu, kutulis itu semua dalam document ini. Setidaknya sekarang kau tahu akan hal ini. Kau pernah menangis karenaku dulu. Dan aku menangis karenamu sekarang.

Maukah kau untuk membuatku selalu tersenyum? Aku memang tidak seperhatian seperti yang kau harapkan. Tapi dalam diamku aku selalu memperhatikan dirimu sampai ke hal yang paling kecil secara detail. Aku memang tidak pernah menunjukkan rasa sayangku kepadamu lewat ucapan. Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata untuk kupersembahkan padamu. Aku hanyalah aku. Aku hanyalah Pritami Imay Sari. Manusia biasa yang mempunyai caranya sendiri untuk menyayangimu. Bukan lewat ucapan sayang setiap saat, bukan lewat perhatian dengan selalu menanyakan apakah kau sudah makan hari ini. Aku mempunyai caraku sendiri untuk itu.

Maukah kau memperkenalkan dirimu seutuhnya kepadaku? Maaf, aku belum bisa terlalu luwes denganmu. Masih ada rasa canggung pada diriku. Kau masih seperti orang baru bagiku. Jadi, berikanlah waktu kepadaku untuk ini J.

Senin, 26 Desember 2011

23:33

anak kecil yg mencoba dewasa

Ini mungkin terlihat seperti anak kecil bagimu. Tapi, setiap kau menyebutkan nama Vika dari ucapanmu aku selalu merasa takut. Aku takut kau pergi dariku. Walaupun selalu kau bilang takkan tinggalkan diriku, aku tak pernah bisa tenang. Wanita itu seolah-olah selalu menghantui diriku. Aneh, aku tahu aku aneh aku terlalu paranoid untuk itu. Mungkin ini balasan untukku karena kesalahanku dulu. Aku pergi meniinggalkan dirimu. Dan sekarang kucoba untuk mendekatimu lagi. Pernahkah kau menyadari mengapa kita bisa dekat kembali? Itu karena aku. Coba dulu aku tidak membalas “mention” pertama yang kau kirimkan untukku. Yaa.. walaupun kau yang pertama mengirimnya. Tapi aku selalu membalas apa yang kau kirim untukku.

Ingat waktu pertama kali kita jalan bersama lagi? Ketika kau mengajakku untuk pergi. Hal itu tidak akan pernah terjadi jika aku tidak pernah mengiyakan tawaranmu itu. Kau tahu tidak, ketika hari di mana kita pergi nonton. Sebenarnya aku tidak bisa pergi hari itu. Sedang ada acara berlangsung yang sebenarnya tidak dapat aku tinggal, tetapi karena hanya waktu itu waktu yang tepat untuk kita pergi, aku mengusahakannya. Padahal sore-sorenya pukul 16:00 sampai pukul 21:00 aku ada jadwal les yang mungkin sekarang kau bisa tahu betapa padatnya jadwal hari jumatku. Kita janjian untuk berangkat pukul 15:00 kala itu. Tapi, kau ingat aku telat? Aku bilang padamu bahwa aku baru tiba di rumah, dan memang benar. Dari Jakarta aku baru berangkat pukul 14:10. Dan keadaan siang itu tidak begitu lengang, ada sebagian jalan yang aku lewati terjebak macet. Untungnya aku dapat tiba di rumah jam tiga kurang, masih ada waktu untuk siap-siap. Aku cepat-cepat bergegas tanpa menghiraukan rasa lelahku. Kau sempat meneleponku bukan? Tapi aku tidak menjawab beberapa dari teleponmu? Kau pasti tahu apa yang aku tidak suka. Maaf, aku tahu waktu itu adalah keadaan mendesak, tapi aku selalu takut jika ada orang yang meneleponku. Aku tidak tahu kenapa.

Kita tiba di salah satu mall di Bekasi. Kita sempat berdebat kecil ingin menonton apa. Haha! Tapi aku menang dan kau mungkin sengaja mengalah. Hem.. kita menonton film “Di bawah Lindungan Ka’bah”, kan? Aku tahu kau agak sedikit tidak suka dengan film itu, tapi aku ingin sekali menonton film itu bersamamu. Kita berkeliling tak jelas sampai waktu tayang film itu tiba. Agak sedikit lelah sebenarnya karena belum ada waktu istirahat bagiku sejak di sekolah. Limat menit sebelum film di mulai, kita duduk sebentar. Aku bisa duduk dan melihat wajahmu dari dekat lagi, Mar. Sulit dipercaya. Aku kira tidak akan ada kesempatan itu lagi. Tetapi waktu mengijinkanku untuk merasa kan hal itu kembali. Sempat aku meneteskan airmata di dalam bioskop. Sungguh memalukan. Hanya karena sebuah film airmata mudah sekali menetes dari mataku. Film selesai kita tonton. Kita lanjut untuk mencari makan. Tidak ada niatku untuk makan sebenarnya. Dari pagi aku hanya makan cemilan di kantin. Hal itu yang membuatku menjadi mual. Ya! Telat makan sering membuatku menjadi mual yang akhirnya menyebabkan tidak ada makanan yang masuk dalam perutku. Maaf, jika hanya sedikit yang aku makan waktu itu. Aku tidak ingin merusak acara pertama kita hanya karena aku muntah. Kucoba untuk menutupi rasa sakitku kala itu. Aku tidak ingin terlihat kasihan di hadapanmu. Aku ingin terlihat seperti wanita yang kuat dan tidak lemah.

Kita pulang. Di jalan, kau mencoba memutar-mutar jalan yang memang aku tidak tahu jalannya. Hari yang cukup panjang. Terima kasih untuk hari itu…

Minggu, 25 Desember 2011

22:03