Satu Januari dua ribu dua belas. Akhir tahun dan awal tahun kita lewati bersama. Kita pergi ke Monas waktu itu. Macet ketika berangkat dan pulang. Padahal hanya sebentar kita di Monas, tapi perjalanan yang panjang itu sangat menguras waktu. Pegal dan pegal. Seharusnya aku yang memijitimu waktu itu, tapi malah kau yang memijiti aku. Terima kasih Damar J. Tapi… tanganmu memang besar sekali. Kaki dan tanganku seperti kau cengkram semua. Begitupun ketika pulang. Kau sudah pasti sangat lelah, tapi malah aku yang tidur. Aku tahu kau pasti sangat pegal menahanku. Maaf yah, Damar aku sangat merepotkanmu. Aku juga sempat menjatuhkan makanan yang seharusnya kita makan. Maaf maaf, aku memang tidak bisa diam L.
Ketika berangkat, kita sibuk membicarakan orang lain. Tapi memang sungguh lucu mereka waktu itu. Ketika di Monas, juga begitu ramai. Kita bingung ingin masuk lewat mana. Dan untungnya kita menemukan jalan masuk. Walaupun desak-desakan, kau melindungiku saat itu. Di dalam Monas, kau begitu dekat. Dekat sekali denganku. Ingin rasanya tidak melepaskan dekapan itu. Begitu nyaman berada di dekatmu J.
Dan tiba saatnya pulang. Untung saja kau ingat di mana kita memarkirkan motor. Jadi kita tak perlu berkeliling untuk mencari tempat parkirnya. Di perjalanan menuju tempat parkir, kau kembali menyebut nama wanita itu. Kau bilang padaku takkan pernah membicarakan atau mengingat-ingat wanita itu. Tapi kau malah menyebutnya langsung di depan wajahku. Itulah sebabnya aku tak suka jika harus pergi ke tempat di mana dulu kau pernah pergi dengannya. Kau masih saja ingat makanan yang biasa kalian makan ketika di Monas bersamanya. Sedih rasanya aku mendengarnya. Begitu spesialnya kah hubungan kalian dulu? Mengapa kalian berpisah jika dulu begitu indah untuk di lupakan?
Maaf, maaf, maaf aku selalu mengungkit-ungkit tentang ini kepadamu. Ketika bertemu denganmu, aku tidak pernah membicarakan hal ini kepadamu. Aku takut melukai perasaanmu. Aku tak tega jika melihatmu tersakiti, oleh karena itu, aku selalu bisa menahan semua ini walaupun harus aku yang merasa sakit. Tapi di sini aku berbicara padamu.
Aku tak suka selalu saja. Kau sebut-sebut namanya saat kita bicara. Aku tak ingin, tak ingin mendengarnya. Kau bawa-bawa namanya saat berdua denganku.
Sudah kau lagi-lagi membicarakan wanita itu, kita malah bertemu dengan Ambulance. Begitu dekat lagi. Astaga! Aku sangat ketakutan waktu itu. Tapi kau malah menyeretku mendekati Ambulance >.<. Hatiku belum benar seutuhnya, ditambah lagi dengan ambulance itu. Ah! Sungguh tak suka aku.
Maaf. Mungkin kau menganggapku wanita lemah. Tapi aku tidak selemah seperti kelihatannya.
Ketika mengetik ini, kita sedang smsan. Tepatnya pukul 23:15. Kau tidak sedang membalas pesanku. Saat itu aku mngirimkan balasan ini padamu, “Kamu yakin, Mar ngomong gitu? Tapi aku gak nganggep kamu seperti kamu anggep aku sekarang. Ternyata kamu nganggepnya ini biasa yah? Hem.”. Dan kau tidak lagi membalas pesanku. Dan saat itu aku merasa takut kau pergi meninggalkanku. Mungkin ini balasan untukku atas apa yang telah kuperbuat dulu padamu. Memang tak enak. Tapi apa dayaku? Apa yang dapat kuperbuat agar kau tetap di sisiku? Jangan pergi, Mar. ku tak akan membuatmu kecewa lagi.
Dan tak pernah terlintas dipikiranku untuk meninggalkanmu. Aku sayang sama kamu Damar J.
Minggu, 01 Januari 2011
23:21